Jumat, 30 Januari 2009

Artikel Pendidikan

Paradigma Pengembangan Sekolah Unggulan


Sekolah Unggulan dapat diartikan sebagai sekolah bermutu namu dalam penerapan saya bahkan penerapan semua kalangan bahwa dalam kategori unggulan tersirat harapan-harapan terhadap apa yang dapat diharapkan dimiliki oleh siswa setelah keluar dari sekolah unggulan. Harapan itu tak lain adalah sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan oleh siswa itu sendiri yaitu sejauh mana keluaran (output) sekolah itu memiliki kemampuan intelektual, moral dan keterampilan yang dapat berguna bagi masyarakat.

Untuk menyikapi semua itu, kita harus mengubah system pembelajaran yang selama ini berlaku disemua tingkat pendidikan yaitu adanya keterkungkungan siswa dana guru dalam melaksanakan PBM, saya selaku pengajar di SMA Negeri 1 Bulukumba telah merubah sisten itu sejak januari 2006. Sistem yang saya maksud adalah system dimana Siswa dan Guru dikejar dengan pencapaian target kurikulum dalam artian guru dituntut menyelesaikan semua materi yang ada dalam kurikulum tanpa memperhatikan ketuntasan belajar siswa, disamping itu adanya anggapan bahwa belajr adalah berupa transformasi pengetahuan (Transfer of knowlwdge).

Pada sisi unggulan semua system itu seharusnya tidak diterapkan agar apa yang menjadi harapan siswa, orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan kita selaku pengajar dan pendidik dapat tercapai. Mari kita sama-sama merubah semua itu dengan mengembangkan Learning How to Learn (Murphi,1992) atau belajar bagaimana belajar, artinya belajar itu tidak hanya berupa transformasi pengetahuan tetapi jauh lebih penting adalah mempersiapkan siswa belajar lebih jauh dari sumber-sumber yang mereka temukan dari pengalaman sendiri, pengalaman orang lain maupun dari lingkungan dimana dia tumbuh guna mengembangkan potensi dan perkembangan dirinya atau dengan kata lain belajar pada hakekatnya bagaimana mengartikulasikan pengetahu an-pengetahuan siswa kedalam kenyataan hidup yang sedang dan yang akan dihadapi oleh siswa.

Secara pribadi dalam hal mengembangkan sekolah kearah sekolah unggulan (sekolah bermutu) disamping perubahan-perubahan tersebut masih banyak hal yang perlu diperhatikan diantaranya : Sarana dan prasarana, Menejmen persekolahan,Visi dan Misi sekolah, Profesionalisme Guru dan lain-lain. Untuk Profesionalisme bukan berarti menguasai sebagian besar pengetahuan tatapi lebih penting adalah bagaimana membuat siswa dapat belajar, guru dan siswa disederhanakan agat tidat tercipta gep, adanya perilaku guru yang membuat siswa tersisih atau terpisah dari gurunya, guru dan siswa harus terjalin komunikasi agar dalam proses pembelajaran ada keterbukaan siswa mengeritik dan mengeluarkan pendapat. Sebab bukan tidak mungkin dengan pengaruh perkembangan teknologi siswa lebih pintar dari gurunya.

Itulah asumsi saya mengenai pengembangan sekolah unggulan, mudah-mudahan, pemerintah termasuk kawan-kawan seprofesi dapat menerapka hal tersebut bahkan mengembangkan lebih jauh lagi.



Sumber : http.artikel.total.or.id
___________
Drs. Abdul Hadis -- .


Rabu, 28 Januari 2009

Jumat, 16 Januari 2009

PENDIDIKAN-KU


Guru Kreatif, Murid Aktif Ibrahim: Tak Ada Model Pembelajaran Sakti
Dalam menciptakan pembelajaran inovatif (PI), seorang guru tidak harus terpaku pada model tertentu. Sebab, tidak ada satu pun model atau strategi pembelajaran "sakti" yang dapat digunakan untuk mencapai semua tujuan pembelajaran. Tiap model atau stategi pembelajaran punya keunggulan dan kelemahan masing-masing.
"Model pembelajaran tertentu hanya cocok untuk mencapai tujuan tertentu dan kurang sesuai untuk tujuan lain. Karena itu, guru dituntut kreatif mencari model pembelajaran yang tepat sesuai tujuan yang ingin dicapai," ujar Prof Dr H Muslimin Ibrahim MPd, guru besar Pendidikan Biologi Unesa, yang akan menjadi narasumber dalam semiloka pembelajaran inovatif (PI) dalam rangka program Utukmu Guruku 2009.
Ditegaskan Ibrahim, tujuan merupakan kunci utama keberhasilan dalam PI. Itu langkah awal yang harus dilakukan guru. Selanjutnya, guru perlu memodelkan tujuan tersebut dan siswa meniru model yang disampikan guru.
Dicontohkan, pembelajaran inovatif menari atau bermain musik. Tujuannya, tentu, agar siswa bisa menari dan memainkan alat musik. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dituntut memberikan contoh model gerakan tari atau cara bermain musik dengan baik dan benar. Lalu, siswa meniru gerakan tersebut.
Sebagai wujud kreativitas, guru tidak hanya menerapkan satu model. Mereka dapat menggabungkan model-model lain. "Guru bebas berimprovisasi. Yang penting, tujuan pembelajaran tercapai, baik yang mencakup aspek kognitif, keterampilan motorik, maupun sikap," tuturnya.
Yang tidak kalah penting dalam PI, lanjutnya, adalah peran aktif siswa. Dalam proses belajar-mengajar, murid harus aktif. Guru hanya memfasilitasi, menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran. "Untuk membuat murid aktif, guru jangan hanya memberi info jadi," katanya.
Pemberian info terbaik bagi siswa, menurut Ibrahim, adalah memakai sistem kail. Artinya, siswa dibimbing untuk menemukan jawaban atau informasi atas permasalahan yang dihadapi.
Misalnya, siswa bertanya tentang titik didih air. Guru yang baik tidak akan menjawab titik didih air adalah 100 derajat celcius. Dia akan memberikan arahan agar siswa praktik mengukur titik didih air dan menemukan jawaban yang benar.
Dengan begitu, siswa mendapat dua manfaat. Pertama, mereka tahu cara mengukur dan menentukan titik didih air serta menentukan jawaban yang benar.(may/soe) (Sumber: Jawa Pos, 17 Januari 2009)

KEBIADABAN ZIONIS


Bahas Gaza, Liga Arab Pecah Jadi Dua Kubu DOHA - Hingga minggu ketiga invasi Israel ke Gaza, sama sekali tak tampak peran signifikan negara-negara Arab dalam penyelesaian konflik tersebut. Mereka malah saling bertengkar ketika hendak merundingkan jalan tengah perdamaian Gaza.
Akibat perbedaan tersebut, anggota Liga Arab kini terpilah menjadi dua kubu. Kubu pertama dikomandani Mesir dan Arab Saudi. Sementara itu, kubu lain dimotori Qatar dan Syria. Qatar ingin persoalan agresi Israel ke Gaza dibahas tersendiri dalam sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT) pemimpin Arab, namun Mesir dan Arab Saudi menolak. Mereka menyatakan, persoalan Gaza sebaiknya dibahas bersamaan dengan pertemuan ekonomi pada Senin lusa (19/1) di Kuwait.
Hari ini Qatar mengundang para anggota Liga Arab di Doha untuk menggalang dukungan. Sebayak 14 negara menyatakan siap hadir. Namun, KTT itu baru bisa dilaksanakan jika diikuti 15 negara anggota.
Langkah Qatar itu berusaha dibendung Arab Saudi. Sebelum pertemuan Doha dilaksanakan, negara pimpinan Raja Abdullah tersebut akan menghelat pertemuan tandingan di Riyadh.
"Kami yakin pertemuan di Doha bakal mengecewakan Arab karena tanpa persiapan,'' kata Hassan Issa, mantan diplomat Mesir, seperti dilansir Reuters kemarin (16/1). ''Ada perbedaan di antara negara-negara Arab. Anda tak akan bisa menggelar pertemuan dalam atmosfer seperti ini. Itu bakal kontraproduktif."
Arab Saudi dan Mesir didukung Tunisia, Jordania, Iraq, Bahrain, Kuwait, dan Maroko. Bila demikian, berarti Qatar dan Syiria hanya punya 14 suara, kurang satu dari ketentuan Liga Arab. "Negara-negara Arab bakal susah menekankan tujuan kepentingannya, khususnya dalam kasus Palestina,'' sebut pernyataan resmi pemerintah Maroko.
Mesir, Arab Saudi, dan negara pendukung lainnya memang dikenal sekutu dekat Amerika Serikat. Mesir, negara tetangga Gaza, dikritik banyak pihak karena menutup rapat-rapat pintu perbatasannya dengan Gaza. Itu membuat penduduk Gaza tak punya pilihan lain, selain pasrah menyambut peluru Israel. Arab Saudi, sejak operasi Cast Lead diluncurkan Israel ke Gaza pada 27 Desember lalu, tak berkomentar sepatah kata pun. Jordania memang lantang mengkritik Israel. Namun, ketika roket meluncur dari perbatasan mereka ke permukiman Israel, pimpinan negara itu tergopoh-gopoh menyangkal.
"Arab sedang kacau-balau, sungguh sangat disesalkan dan merugikan,'' kata Amr Moussa, ketua Liga Arab.
Sikap pasif dan masa bodoh negara-negara Arab itu dikritik Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Rabu (15/1). Lewat sepucuk surat yang dilayangkan kepada Arab Saudi, Ahmadinejad mendorong Raja Abdullah agar bangkit dari kebungkamannya dan menyuarakan perlawanan.
Sementara itu, pimpinan berpengaruh Hamas, Saeed Siam, tewas dihunjam peluru Israel kemarin (16/1). Siam adalah menteri dalam negeri pemerintahan Hamas sebelum digulingkan pada 2007. Dia merupakan orang penting ketiga dalam garis struktur kepemimpinan Hamas di bawah pemimpin Hamas Ismail Haniya dan mantan Perdana Menteri Mahmoud al-Zahar. (ape/ttg) (sumer : Jawa Pos, 17 Januar 2009)

Kamis, 15 Januari 2009

HUMOR


Membayangkan Serdadu Israel
Hampir tak ada negara yang rela ketinggalan mengikuti olimpiade. Acara empat tahunan itu merupakan salah satu cara promosi negara masing-masing. Dan tentu saja, peristiwa ini juga sangat bergengsi karena acara ini diliput oleh media massa semua negara peserta.
Wajarlah kalau setiap negara berusaha mengirimkan atlet terbaiknya, dengan harapan mereka bisa mendapat medali emas. Begitulah sambutan Presiden Gus Dur saat melepas tim Indonesia ke Olimpiade Sydney kala itu.
Gus Dur lalu bercerita tentang peristiwa yang pernah terjadi di Suriah. Pada waktu Olimpiade beberapa tahun lalu, tuturnya, kebertulan pelari asal Suriah memeperoleh medali emas. Sang pelari mampu memecahkan rekor tercepat dari pemenang sebelumnya. Bahkan selisih waktunya pun terpaut jauh.
Maka, ia langsung dikerubuti para wartawan karena punya nilai berita yang sangat tinggi. "Apa sih rahasia kemenangan Anda? tanya wartawan.
"Mudah saja" jawab si pelari Suriah, enteng. "Tiap kali bersiap-siap akan mulai, saya membayangkan ada serdadu Israel di belakang saya yang akan menembak saya." (ahm) (Sumber : okezone.com)