Minggu, 29 Maret 2009

Arikel Pendidikan


Merekonstruksi Pendidikan, Membangun Moral
Oleh : *) Kasmadi, S.Pd.

Menjadi guru merupakan pekerjaan mulia. Kemuliaan itu terletak pada peranan dan tanggung jawab segitiga emas yang diembannya. Yakni, (1) menyampaikan ilmu pengetahuan (tranfer of knowledges), (2) mewariskan nilai-niali luhur (transfer of values), dan (3) mewariskan keterampilan dan keahlian (transfer of skill). Ketiga dimensi tersebut diharapkan akan melahirkan anak-anak bangsa yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spritual. 


Menjadi guru merupakan pekerjaan mulia. Itulah yang belum banyak disadari dan dimengerti oleh sebagian besar para pendidik. Indikatornya, mereka hanya menyampaikan ilmu pengetahuan saja tanpa memberikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam mata pelajaran yang diajarkan, bahkah menjauhkan dari aspek spritual. Sehingga para lulusannya secara akademik nilainya baik, tetapi mereka sering melakukan pelanggaran moral dan spiritual. Hal ini terbukti banyaknya kasus penggunaan narkoba, perkelahian, pergaulan bebas, sadisme, dan lain-lain terjadi di sekitar kita dan pelakunya para pelajar. Bahkan ada yang sampai tega membunuh orang tuanya sendiri. 
Lalu ini salah siapa? Dilihat dari perspektif pendidikan, sebenarnya profesi pendidik memiliki tanggung jawab moral untuk mengantarkan anak didik menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan, beradab, dan berbudi luhur. Untuk mencapai tujuan di atas, guru mempunyai peranan sangat penting. Oleh karena itu, dalam PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional dan UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disyaratkan, guru harus memiliki kompetensi pedagogis, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Keempat kompetensi tersebut harus terintegrasi, tidak boleh terpisah-pisah sebagai bingkai kompetensi guru.

Menipisnya Moral
Salah satu fenomena yang patut kita renungan bersama adalah menipisnya nilai-nilai moral terutama di kalangan pelajar. Gejala melupakan sikap rasional menjadi gaya hidup yang beroreintasi pada pertanyaan, apa yang dapat saya lakukan? Dan mengabaikan sikap moral dan etis yang berorientasi pada, apa yang baik untuk dilakukan?, bahkan sikap relegius yang mempertanyakan, apa yang halal dilakukan?
Ada beberapa faktor penyebab menipisnya moral para pelajar kita. Pertama, kurangnya teladan bagi siswa. Disadari atau tidak, setiap tingkah laku guru baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun kehidupan sosial menjadi inspirasi tersendiri bagi mereka. Kelelehan pelajar dalam mencari tokoh teladan (guru, orang tua) menimbulkan sikap frustrasi yang kemudian menimbulkan berbagai kompensasi mencari “kenikmatan” di luar. Kedua, dunia pendidikan kita selalu mengkultuskan aspek intelektual daripada nilai moral dan agama. Banyak siswa yang berprestasi di bidang akademik namun sering melakukan hal-hal yang melanggar moral dan agama. Ketiga, melemahnya sanksi sekolah terhadap siswa yang melanggar. Baik pelanggaran moral, agama, sosial. Orang menganggap enteng dengan pelanggaran tersebut. Keempat, pengaruh negatif budaya dari luar yang tidak sesuai dengan budaya kita. Termasuk tontonan televisi yang tidak mendidik dan cenderung merusak tatanan moral menjadi menu setiap hari.

Merekonstruksi Peranan dan Tanggung Jawab Guru
Tugas dan peranan guru profesional adalah menyampaikan ilmu pengetahuan (tranfer of knowledges) mewariskan nilai-niali luhur (transfer of values) dan mewariskan keterampilan dan keahlian (transfer of skill). Dengan ketiga dimensi tersebut di atas diharapkan akan melahirkan anak-anak bangsa yang kamil. Paling tidak dapat meningkatkan kualitas pikir-nalar, kualitas moral--religius, kualitas kerja--pengabdian, dan kualitas hidup dunia--akhirat.
Namun cita-cita untuk melahirkan anak-anak bangsa menjadi insan yang kamil tidaklah semudah membalikkan telapan tangan. Membutuhkan keyakinan dan niat yang kuat, aktualisasi yang istiqomah (ajeg), kerja sama yang sinergis dari berbagai pihak, dukungan moral orang tua --masyarakat. dan doa kepada Tuhan. Arus gloalisasi yang menyeret kita ke kubangan kenikmatan sesaat, menjelma menjadi kesengsaraan struktural dan horizontal yang bersifat materialistis terus menguntit kita. Maka, upaya untuk menyelamatkan anak-anak didik dapat dilakukan dengan memberikan ruang dan kemampuan untuk mengembangkan kehidupan spritualistik sebagai imbangan kehidupan materialistis. Kehidupan spritual itu dapat dikemas dalam “pembiasaan” secara dini, melakukan amal baik yang kontiniu, membiasakan perilaku sopan santun, membudayakan akhlakul karimah, dan mengembangkan kepekaan sosial.  
Peran dan tanggung jawab guru memegang kunci strategis dalam mengembangkan dirinya menjadi guru yang efektif. Oleh sebab itu, seharusnya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang kurang mendukung pembelajaran yang berorientasi pada menyampaikan ilmu pengetahuan, mewariskan nilai-nilai moral, dan mewariskan keterampilan dan keahlian. Sudah saatnya mulai sekarang, guru mengganti dengan kebiasaan-kebiasaan yang mengarahkan dirinya menjadi guru efektif.
Oleh karena itu dibutuhkan intervensi pemerintah, masyarakat, dan kemauan guru sebagai subjek. Akan tetapi yang sangat menentukan guru itu sendiri. Betapa pun hebatnya usaha pemerintah apabila guru tidak memiliki kemauan dan kompetensi yang memadai ushasa pendidikan tidak akan berhasil.
Pekerjaan rumah yang harus dijawab adalah, sudahkan kita menyinergikan ketiga dimensi segitiga emas di atas? Jawaban itu akan terlihat dari produk pendidikan di masa mendatang. Semakin baik atau sebaliknya semakin buruk. Semua itu akan menjadi bahan renungan kita bersama sebagai tanggung jawab moral. Sekali lagi, guru dituntut menjawab tantangan-tantangan zaman ke depan dan menjadi agen perubahan. Tentu, perubahan yang lebih baik, positif, dan maslahah. Sebab perubahan adalah keniscyaan. Wallahu ‘alam bisshowab.

*) Penulis adalah Guru Bahasa dan Sastra Indonesi
  SMPN 1 Singosari, Malang 





Jumat, 06 Maret 2009

AKTIVITAS


Aktivitas sehari yang dilakukan penulis di samping mengajar adalah staf perpustakawan untuk mengembangkan teknologi dan informasi berkaitan dengan keberadaan perpustakaan. Hari-hari yang dilakukan adalah bagaimana memudahkan siswa dalam mengakses koleksi perpustakaan. Dalam waktu dekat pelayanan perpus semakin canggih. Pendataan koleksi dan peminjaman dirancang dengan sistem PAS. Lihat saya nanti bagaimana implementasinya, oyi

Jumat, 27 Februari 2009

MENUJU JALAN ALLAH


Al Aqsa Memanggil Umat Islam Didunia Bersatu Dalam Lailatul Qadar 
 
Pemandangan di Al-Haram Ash-Sharif, halaman Al Aqsa dan kemuliaan Islamiahnya, terlihat sempurna dengan ribuan Muslim yang saling bahu membahu di bawah kesejukan pohon zaitun dan pohon pinus. 
Meskipun penjagaan ketat oleh pasukan Israel sangat terasa di Quds yang dipenuhi oleh sekitar 300.000 orang Muslim di Masjid Al Aqsa pada Jumat terakhir Ramadan, banyak orang akan melewati malam Lailatul Qadar dengan berdoa bersama keluarga mereka, memohon kehidupan yang lebih baik. 

Orang-orang Palestina menghadapi bermacam-macam rintangan, melewati pos-pos penjagaan yang ketat hanya untuk mencapai masjid di timur Yerusalem tersebut, tempat suci ketiga bagi kaum Muslim di seluruh dunia setelah Mekkah dan Madinah di mana haji dilaksanakan.
Lebih dari setengah juta orang Muslim berdesakan dalam masjid untuk berdoa hingga larut malam, memperingati malam dimana Wahyu yang sangat luar biasa diturunkan ke bumi. Orang-orang telah tiba pada Jumat pagi untuk mencari tempat berdoa di aula yang diberkati. Banyak orang tinggal di masjid, bermeditasi dan berdoa sejak beberapa hari sebelumnya.
Hari yang agung tersebut dirayakan pada saat mendekati akhir bulan suci Ramadhan, dimana orang Muslim di seluruh dunia berpuasa mulai subuh hingga petang. Ratusan pria dan wanita dihentikan pada saat melewati dan melaksanakan sholat Dzuhur di wilayah pos pemeriksaan.
Iftar yang diorganisir oleh UAE Red Crescent Authority (RCA) di halaman tempat Suci tersebut, dihadiri oleh kelompok-kelompok besar orang Palestina yang datang dari berbagai penjuru tempat, kamp pengungsi dan desa tersebut, yang dengan beraninya menentang blok-blok pertahanan yang didirikan oleh pasukan Israel.
Kementerian Palestina Urusan Islamiah mengawasi partai Iftar di masjid Al Aqsa dan tempat lain. Lebih dari 50.000 laki-laki, wanita dan anak-anak Palestina mengurus jemaat Iftar yang diorganisir oleh UAERCA di Al-Aqsa, serta masjid lain, sekolah dan kamp pengungsi, menurut perkiraan para sukarelawan.
Tepat di pos Qalanidya di Ramallah, angkatan perang Israel menangkap tujuh orang Palestina dalam perjalanan untukmelaksanakan ibadah tersebut.
Pemandangan di Al-Haram Ash-Sharif, halaman Al Aqsa dan kemuliaan Islamiahnya, terlihat sempurna dengan ribuan Muslim yang saling bahu membahu di bawah kesejukan pohon zaitun dan pohon pinus. Dan dengan suara keheningan, semua orang memanjatkan permohonan dengan cucuran air mata.
Imam Al-Aqsa Syekh Mohammad Salim Mohammad Ali menekankan akan permohonan ampunan serta ketaatan setelah bulan Ramadan berlalu. Dia menyarankan para Muslim agar menolong keluarga-keluarga dari korban pembunuhan dan penahanan.
Dia juga mengutarakan kebaikan Lailatul Qadar, malam dari takdir manusia. Imam juga memerintahkan para pimpinan Palestina untuk mencari kesempatan menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri untuk menguatkan dan mengingatkan akan pentingnya persatuan nasional di antara mereka.
Pemandangan di jalan-jalan sangat jauh dari kesan damai dan tenang.Kekacauan terjadi dari tangan para angkatan perang Israel. Puluhan ribu tentara yang menyebar sejak Jumat subuh membanjiri jalan-jalan dan gang-gang Yerusalem, dan di pintu masuk Masjid Al Aqsa. Rintangan baja yang didirikan oleh angkatan perang Israel menaungi kota tua tersebut, berjajar di setiap pintu masuk di mana tentara memeriksa identias pemuda. Lalu lintas kendaraan di jalanan hamper lenyap dimakan pejalan kaki yang terus mengalir ke Masjid Al Aqsa dari Hebron di titik paling jauh Tepi Barat ke Segitiga Palestina di batas utara Israel.
Persatuan Al Aqsa berakhir dengan jumlah 300.000 jemaat dan mengatakan bahwa puluhan ribu yang akan tinggal untuk doa Sabtu malam, malam ke27 Ramadhan, suci Lailatul Al Qadar.
Masjid Al-Aqsa - tempat suci ketiga bagi umat Islam - menjadi titk pusat bagi konflik orang Palestina Israel dan merupakan tempat pecahnya pemberontakan terakhir Palestina pada tahun 2000. ( Syurat alimran ayat ke 103 ) in/wb/ dikutip Suaramedia.com Visit Video di Orgl Info Ribuan Umat Islam Sholat Lailatul Qadar Di Mesjid Al-Aqsa 
www.suaramedia.com

Jumat, 30 Januari 2009

Artikel Pendidikan

Paradigma Pengembangan Sekolah Unggulan


Sekolah Unggulan dapat diartikan sebagai sekolah bermutu namu dalam penerapan saya bahkan penerapan semua kalangan bahwa dalam kategori unggulan tersirat harapan-harapan terhadap apa yang dapat diharapkan dimiliki oleh siswa setelah keluar dari sekolah unggulan. Harapan itu tak lain adalah sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan oleh siswa itu sendiri yaitu sejauh mana keluaran (output) sekolah itu memiliki kemampuan intelektual, moral dan keterampilan yang dapat berguna bagi masyarakat.

Untuk menyikapi semua itu, kita harus mengubah system pembelajaran yang selama ini berlaku disemua tingkat pendidikan yaitu adanya keterkungkungan siswa dana guru dalam melaksanakan PBM, saya selaku pengajar di SMA Negeri 1 Bulukumba telah merubah sisten itu sejak januari 2006. Sistem yang saya maksud adalah system dimana Siswa dan Guru dikejar dengan pencapaian target kurikulum dalam artian guru dituntut menyelesaikan semua materi yang ada dalam kurikulum tanpa memperhatikan ketuntasan belajar siswa, disamping itu adanya anggapan bahwa belajr adalah berupa transformasi pengetahuan (Transfer of knowlwdge).

Pada sisi unggulan semua system itu seharusnya tidak diterapkan agar apa yang menjadi harapan siswa, orang tua siswa, pemerintah, masyarakat bahkan kita selaku pengajar dan pendidik dapat tercapai. Mari kita sama-sama merubah semua itu dengan mengembangkan Learning How to Learn (Murphi,1992) atau belajar bagaimana belajar, artinya belajar itu tidak hanya berupa transformasi pengetahuan tetapi jauh lebih penting adalah mempersiapkan siswa belajar lebih jauh dari sumber-sumber yang mereka temukan dari pengalaman sendiri, pengalaman orang lain maupun dari lingkungan dimana dia tumbuh guna mengembangkan potensi dan perkembangan dirinya atau dengan kata lain belajar pada hakekatnya bagaimana mengartikulasikan pengetahu an-pengetahuan siswa kedalam kenyataan hidup yang sedang dan yang akan dihadapi oleh siswa.

Secara pribadi dalam hal mengembangkan sekolah kearah sekolah unggulan (sekolah bermutu) disamping perubahan-perubahan tersebut masih banyak hal yang perlu diperhatikan diantaranya : Sarana dan prasarana, Menejmen persekolahan,Visi dan Misi sekolah, Profesionalisme Guru dan lain-lain. Untuk Profesionalisme bukan berarti menguasai sebagian besar pengetahuan tatapi lebih penting adalah bagaimana membuat siswa dapat belajar, guru dan siswa disederhanakan agat tidat tercipta gep, adanya perilaku guru yang membuat siswa tersisih atau terpisah dari gurunya, guru dan siswa harus terjalin komunikasi agar dalam proses pembelajaran ada keterbukaan siswa mengeritik dan mengeluarkan pendapat. Sebab bukan tidak mungkin dengan pengaruh perkembangan teknologi siswa lebih pintar dari gurunya.

Itulah asumsi saya mengenai pengembangan sekolah unggulan, mudah-mudahan, pemerintah termasuk kawan-kawan seprofesi dapat menerapka hal tersebut bahkan mengembangkan lebih jauh lagi.



Sumber : http.artikel.total.or.id
___________
Drs. Abdul Hadis -- .


Rabu, 28 Januari 2009

Jumat, 16 Januari 2009

PENDIDIKAN-KU


Guru Kreatif, Murid Aktif Ibrahim: Tak Ada Model Pembelajaran Sakti
Dalam menciptakan pembelajaran inovatif (PI), seorang guru tidak harus terpaku pada model tertentu. Sebab, tidak ada satu pun model atau strategi pembelajaran "sakti" yang dapat digunakan untuk mencapai semua tujuan pembelajaran. Tiap model atau stategi pembelajaran punya keunggulan dan kelemahan masing-masing.
"Model pembelajaran tertentu hanya cocok untuk mencapai tujuan tertentu dan kurang sesuai untuk tujuan lain. Karena itu, guru dituntut kreatif mencari model pembelajaran yang tepat sesuai tujuan yang ingin dicapai," ujar Prof Dr H Muslimin Ibrahim MPd, guru besar Pendidikan Biologi Unesa, yang akan menjadi narasumber dalam semiloka pembelajaran inovatif (PI) dalam rangka program Utukmu Guruku 2009.
Ditegaskan Ibrahim, tujuan merupakan kunci utama keberhasilan dalam PI. Itu langkah awal yang harus dilakukan guru. Selanjutnya, guru perlu memodelkan tujuan tersebut dan siswa meniru model yang disampikan guru.
Dicontohkan, pembelajaran inovatif menari atau bermain musik. Tujuannya, tentu, agar siswa bisa menari dan memainkan alat musik. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dituntut memberikan contoh model gerakan tari atau cara bermain musik dengan baik dan benar. Lalu, siswa meniru gerakan tersebut.
Sebagai wujud kreativitas, guru tidak hanya menerapkan satu model. Mereka dapat menggabungkan model-model lain. "Guru bebas berimprovisasi. Yang penting, tujuan pembelajaran tercapai, baik yang mencakup aspek kognitif, keterampilan motorik, maupun sikap," tuturnya.
Yang tidak kalah penting dalam PI, lanjutnya, adalah peran aktif siswa. Dalam proses belajar-mengajar, murid harus aktif. Guru hanya memfasilitasi, menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran. "Untuk membuat murid aktif, guru jangan hanya memberi info jadi," katanya.
Pemberian info terbaik bagi siswa, menurut Ibrahim, adalah memakai sistem kail. Artinya, siswa dibimbing untuk menemukan jawaban atau informasi atas permasalahan yang dihadapi.
Misalnya, siswa bertanya tentang titik didih air. Guru yang baik tidak akan menjawab titik didih air adalah 100 derajat celcius. Dia akan memberikan arahan agar siswa praktik mengukur titik didih air dan menemukan jawaban yang benar.
Dengan begitu, siswa mendapat dua manfaat. Pertama, mereka tahu cara mengukur dan menentukan titik didih air serta menentukan jawaban yang benar.(may/soe) (Sumber: Jawa Pos, 17 Januari 2009)